Selasa, 18 November 2014

Sikap yang membawa kuasa dalam hidup!



Pada suatu hari di sebuah desa yang indah dimana para penduduk hidup dengan rukun dan damai. Semua orang di desa itu hidup dengan berkelimpahan, kelimpahan akan hasil panen tanamannya, kelimpahan akan susu dan madu. Cuaca di desa itu pun sangat baik matahari selalu menyinari tanaman dan bunga yang sedang menikmati hangatnya siraman sang fajar. Hujanpun selalu turun memberi minum tanah dan bunga yang haus. 

Namun pada suatu hari yang tidak disangka-sangka datanglah badai yang kencang. Badai itu dengan satu gigitan memakan seluruh hasil panen para petani. Tidak banyak hasil yang tersisa karena badai itu. Tidak hanya itu, juga desa yang indah itu mengalami hujan yang berkepanjangan. Cuaca seakan berubah begitu derastisnya. Cuaca buruk. Hujan tak henti-hentinya berlalu lalang di desa itu.

Penduduk desa mulai mengeluh dengan keadaan ini. Keadaan yang buruk, hujan yang tiada hentinya. Seolah semua tanah yang telah dibajak, semua benih-benih yang tertanam, semua keringat yang tercucur adalah sia-sia. Banyak petani yang mengeluh karena sedikitnya hasil panen dan banyak juga yang menyerah.

Namun, ada seorang petani yang berbeda, apa yang membuatnya berbeda? Sederhana, yaitu sikap hatinya yang senantiasa mengucap syukur. Petani ini mengerti semua penduduk mengalami keadaan yang sama. Tetapi petani ini walaupun di tengah keadaan yang buruk itu ia tidak mengeluh, ia tidak menyalahkan hujan, tidak menyalahkan angin, tidak menyalahkan tanah. Melainkan terus bekerja dengan harapan sesuatu yang baik akan segera terjadi.

Singkat cerita, badaipun sudah berlalu beberapa waktu dan datanglah seorang pembeli dari kota untuk mencari bahan makanan. Pembeli itu berkeliling desa untuk berbincang-bincang dengan beberapa petani. Beberapa petani itu masih terus mengeluh karena keadaan tersebut yang  hasilnya hanya sedikit dan kurang baik.

Lalu bertemulah pembeli itu dengan petani yang selalu mengucap syukur itu. Karena pembeli itu merasakan sikap yang berbeda dari petani itu, kata-kata yang positif, sikap yang berbeda. Akhirnya pembeli itu memutuskan untuk membeli seluruh hasil panen petani itu.


Cerita ini hanya sebuah fiksi belaka, Namun tahukah saudara bahwa sikap yang bersyukur itu adalah juga sebuah sikap yang hormat dan berserah kepada Tuhan. Suatu cara kita mengatakan terimakasih kepada Tuhan. Tuhan tersenyum ketika anak-anakNya berserah kepadanya.
Terkadang sebuah keadaan tidak bisa kita kendalikan, tapi yang bisa kita pilih untuk lakukkan adalah bersyukur. Dengan bersyukur kita akan memiliki damai dan sukacita dan itulah yang menjadi kekuatan kita.
1 Tesalonika 5:18 
Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

So, mengucap syukurlah dalam segala keadaan! God is smiling to you !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar